Ini Kisahku, Bukan Kisahmu
INI KISAHKU
BUKAN KISAHMU
Karya: Micita Ravristian
Hai namaku Liora. Aku berumur 16 tahun. Aku memiliki karakteristik yang mungkin bisa membuat orang lain bingung denganku. Lahir dari keluarga yang utuh, tapi aku tidak merasakan peran masing masing dari mereka.
Ayahku sibuk dengan pekerjaannya. Ibuku? juga sangat sibuk dengan pekerjaannya yang maya dan wah. Aku mempunyai adik perempuan yang masih berusia sangat dini, 4tahun, lagi haus-hausnya kasih sayang ayah dan ibu bukan?
Sayangnya dia juga sama sepertiku. Mentang-mentang adikku sudah bisa berjalan dan bicara lancar. Ibu seenaknya saja menitipkannya setiap hari padaku. Kadang aku sering bertukar cerita dengan adikku, walau dia kurang mencerna apa yang aku lontar kan. Setidaknya aku sudah memberi tau pada adikku kalau dia sebentar lagi akan tumbuh menjadi anak yang mandiri sepertiku. Bicara dengan ayah ibu seperlunya dan hanya ketika membutuhkan sesuatu saja. Setelah itu, tidak akan ada apa-apa lagi dengan ayah ibu. Tugasku sebagai kakak hanya menggantikan separo dari peran ibuku yang tidak didapatkan oleh adikku. Tidak memanjakannya, tapi aku akan memberi tau kepada anak sekecil itu kalau sebentar lagi nasibnya akan hampir sama denganku, tapi untungnya dia punya kakak, tidak sepertiku yang tidak bisa bersandar kepada siapa pun.
Ketika aku bersekolah. Aku menitipkan adikku kepada tetanggaku yang juga mempunyai anak yang sama besar dengan adik ku. Tetangga-tetanggaku untungnya tidak seperti ibu-ibu komplek yang lain, yang hobinya ngerumpi lah ini lah itu lah. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu bersama anak mereka sembari menunggu suami mereka pulang kerja. Terkadang aku berfikir, jikalau ibuku seperti itu juga, aku tidak akan menyangka sekali, dan adikku pasti senang sekali bisa dekat dengan ibunya. Tidak apa-apa denganku, tapi aku hanya ingin adikku mendapatkan apa yang harusnya ia dapat kan di umur segitu, bahkan lihatlah adikku lebih takut kehilanganku daripada kehilangan ibu kandungnya sendiri.
Di sekolah aku cinderung sekali ingin dekat dengan guru-guru yang ada di sekolah. Untungnya seperti yang aku bayangkan, guru-guru di sekolah juga senang hati denganku, bahkan aku lebih dekat dengan guru-guruku dari pada orang tua kandungku sendiri. Teman-temanku tidak banyak. Karena bagiku teman banyak itu hanya menguras sosial energy ku, belum lagi menampung kemunafikannya, menampung playing victimnya, ingin dimengerti selalu tapi tidak bisa mengerti orang lain, egois, selalu merasakan persaingan, ahh tidak sekali bagiku, sangat sangat menguras tenaga. Maka dari itu, aku lebih memilih meng cut off orang-orang yang tidak jelas di kehidupanku. Di sekolah aku juga cenderung ceria dan cerdas makanya aku tidak ingin pertemanan yang menguras sosial energyku.
Ketika aku pulang sekolah aku langsung pulang kerumah meletakkan tas, menukar baju seragam sekolahku, dan pergi ke rumah tetangg ku serta meminta terima kasih kepada tetanggaku karena sudah mau menjaga adikku. Begitu setiap harinya, kecuali ketika libur aku akan menghabiskan waktu dengan adikku.
Seiring berjalannya waktu adikku tumbuh menjadi gadis cantik dan sekarang dia sudah memasuki kelas 1 SMP yang dimana dia memiliki hobi yang sama denganku. Membaca buku yang unik dan memberi banyak pelajaran. Adikku juga tumbuh menjadi siswa yang pintar, cantik, dan sopan. Dia sering menceritakan padaku kalau dia sangat populer di kelas, bahkan di sekolahannya sekalipun, dia juga bisa jadi juara kelas. Aku merasa berhasil di atas perjuangan adikku dan aku juga merasa berhasil menggantikan sedikit dari peran ibuku.
Adikku memberi tahu kepada ayah dan ibuku tentang bagaimana dia kalau di sekolah. Dia seberani itu buka suara pada ayah dan ibu, sedangkan aku? sangat canggung sekali jikalau bicara dengan ayah ibuku, karena dari kecil memang jarang sekali komunikasi dengan mereka. Mendengar cerita adikku ayah dan ibu juga bangga katanya. Di tengah pembicaraan antara ayah, ibu, dan adikku yang hanya sekali seumur-umur itu, adikku langsung bicarakan dengan kesadaran penuh kepada ayah dan ibuku, bahwa di atas keberhasilannya itu juga hasil dari keberhasilan kakaknya yang sudah mendidiknya dengan baik dan benar.
Seketika ayah dan ibuku melihat ke arah ku. Aku hanya tersenyum tipis kepada ayah dan ibu. Ayah ibu dengan tatapan bangganya melirih lagi kepada adikku dan aku. Di saat itu ayah dan ibu meminta maaf kepada aku dan adikku, karena mereka selama ini tidak mendampingi pendidikan anak-anaknya seperti orang tua pada umunya.
Pada saat itu juga aku merasa kalau sekarang duniaku baik-baik saja ketika aku melihat semua ini, seperti yang aku inginkan dari kecil berkumpul dengan keluarga. Ada keharmonisan yang membuat aku berfikir kalau inilah dunia yang aku inginkan dan pada akhirnya keluargaku sudah menjadi apa yang aku ingin kan sejak kecil.
PADANG 28 Desember 2024
Komentar
Posting Komentar